Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2011

Selasa, 20 Desember 2011

Beruntunglah Kita Tarbiyah (1)

Beruntunglah Kita Tarbiyah (1) - Satu pagi di pekan ini. Seorang ikhwah terlihat sedang berjalan menyusuri trotoar yang berjarak lebih 10 kilo meter dari rumahnya. Tas ransel menempel di punggungnya, membentuk kesan beberapa tahun lebih muda. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab: “Sebentar lagi mukhayam, ana perlu menyiapkan diri. Lagi pula, ana merasa selama ini kurang riyadhah

Bagaimana dengan riyadhah atau olah raga pekanan, bukankah harusnya rutin berjalan? “Itulah kelemahan ana. Selama ini hanya riyadhah ala kadarnya. Beberapa pekan yang lalu ana jatuh sakit, diantara penyebabnya terlalu banyak duduk dan kurang olah raga.”

“Untunglah tarbiyah 'memaksa' kita untuk hidup seimbang. Termasuk menjadikan mukhayam sebagai salam satu wasilahnya. Itu sangat mengingatkan dan membantu ana. Entahlah apa jadinya kalau ana tidak ikut tarbiyah. Beberapa teman ana sudah kena stroke, kebanyakan adalah mereka yang jarang olahraga.”

Subhaanallah... ternyata aktif dalam tarbiyah bukan saja membuat kita dekat dengan Allah SWT dan memahami Islam lebih syamil. Benar juga, seringkali dengan sistem yang baik, kita “dipaksa” menjadi baik. Demikian pula tarbiyah. Ia “memaksa” kita untuk menjalani hidup dengan seimbang. Setidaknya tiga aspek besar kehidupan menjadi perhatian: ruhiyah, fikriyah, jasadiyah.

Riyadhah, mukhayam, dan sejenisnya “memaksa” kita untuk memenuhi hak fisik kita. “Atas fisik kalian ada hak yang harus ditunaikan,” demikian Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits.

Dengan fisik yang sehat, bugar dan kuat, banyak kewajiban yang bisa kita tunaikan lebih mudah. Bukankah terlalu banyak ibadah di dalam Islam yang membutuhkan fisik yang sehat? Dalam lima rukun Islam saja, tiga diantaranya membutuhkan fisik yang sehat; shalat, puasa, lebih-lebih haji. Jika dipikir lebih jauh, zakat sebenarnya juga membutuhkan fisik yang sehat, secara tak langsung. Dengan fisik yang sehat seseorang bisa berpenghasilan, dari penghasilan seseorang memiliki harta yang jika mencapai nishab dan haul, barulah ia berkewajiban zakat. Ternyata zakat juga berhubungan dengan fisik yang sehat.

Ibadah ghairu maghdah juga begitu. Hampir selalu membutuhkan fisik yang sehat. Bekerja untuk memberi nafkah keluarga, berdakwah, berharakah, semuanya membutuhkan fisik yang sehat. Bahkan fisik yang bugar dan kuat. Sungguh luar biasa sabda Nabi : “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”

Kita mungkin pernah bertanya saat membaca Risalah Ta'alim, mengapa Hasan Al-Banna mendahulukan qawiyyul jism daripada aspek lain termasuk matinul khuluq dan salimul aqidah? Cerita ikhwah di atas barangkali memudahkan kita untuk menjawabnya. Hasan Al-Banna menekankan pentingnya tarbiyah jasadiyah agar diperhatikan aktifis dakwah yang umumnya secara aqidah dan akhlak sudah tidak ada masalah. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin]

*Sumber : www.bersamadakwah.com

Selasa, 09 Agustus 2011

Selasa, 09 Agustus 2011

Tiga “Bid’ah” Umar bin Al-Khaththab

Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Al-Khaththab – radhiyallahu ‘anhu – keluar dari rumahnya menuju Masjid Nabawi. Beliau mendapati berbagai macam orang yang melakukan qiyam Ramadhan :

- Ada yang melakukan qiyam sendirian,

- Ada yang melakukannya berduaan,

- Ada yang melakukannya dalam kelompok yang lebih besar dari itu.

Melihat keadaan yang demikian, maka amirul mukminin Umar – radhiyallahu ‘anhu – lalu menginstruksikan tiga hal:

1. Agar semua yang melakukan qiyam dalam banyak jamaah itu disatukan dalam satu jamaah dengan satu imam, dan ditunjuklah Ubay bin Ka’ab – radhiyallahu ‘anhu – sebagai imam, sebab beliau lah yang telah mendapatkan licence dari Rasulullah SAW sebagai Aqraukum, umat nabi yang paling bagus Qur’annya.

2. Memajukan waktu pelaksanaannya menjadi setelah shalat Isya’, di mana biasanya, dilakukan setelah tengah malam atau pada sepertiga malam yang terakhir.

3. Memperpendek tempo waktu pada setiap rakaatnya, di mana pada sebelumnya, tempo waktu rakaat sangat lama, atau istilahnya: “jangan tanyakan lama dan bagusnya”, karena memang luamma dan buagus.

Sebagai kompensasi atas “pemendekan” tempo waktu rakaat , maka jumlah rakaat-nya diperbanyak.

Terkait dengan 3 hal ini, amirul mukminin Umar bin Khaththab – radhiyallahu ‘anhu – berkata: “ni’mal bid’atu hadzihi” sebaik-baik bid’ah adalah hal ini.


*sember : dakwatuna.com

Senin, 25 Juli 2011

Senin, 25 Juli 2011

10 Langkah Bersiap Menyambut Ramadhan

Bulan Sya’ban sebentar lagi kita akhiri. Kini, bulan Ramadhan segera datang menghampiri. Terkait dengan ketiga bulan mulia ini, Rasulullah saw. secara khusus memanjatkan doa ke haribaan Allah SWT:

«اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَ حَصِّلْ مَقَاصِدَنَا»

Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan pada bulan Sya’ban ini; sampaikanlah diri kami pada bulan Ramadhan; dan tunaikanlah keinginan-keinginan kami (HR Ahmad).

Ibarat samudera, Ramadhan menyimpan sejuta mutiara kemuliaan, memendam perbendaharaan segala keagungan dan di dalamnya bersemayam aneka kebesaran. Ramadhan juga merupakan cakrawala curahan karunia Allah SWT karena semua aktivitas hamba yang beriman pada bulan ini dinilai sebagai ibadah. Kecil yang dilakukan tetapi besar pahalanya di sisi Allah. Ringan yang dikerjakan namun berat timbangan di hadapan Allah. Apalagi jika amal yang besar dan berat, tentu akan mampu melesatkan hamba ke derajat kemuliaan dan meraih kenikmatan surga-Nya.

Datangnya Ramadhan bagi orang Mukmin adalah laksana ‘kekasih’ yang sangat ia rindukan; dengan sukacita ia akan menyiapkan segala sesuatu yang dapat mengantarkan perjumpaan menjadi penuh makna, berkesan dalam dan senantiasa melahirkan harapan-harapan mulia.

Sebagai seorang Muslim yang cerdas, kita perlu strategi juga dalam beramal. Dengan tujuan agar mendapatkan nilai ibadah dan ilmu yang maksimal di bulan Ramadhan. Disini akan diungkap 10 langkah dalam menyambutnya.

1. Berdoalah agar Allah swt. memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan. (HR. Ahmad dan Tabrani)
Para salafush-shalih selalu memohon kepada Allah agar diberikan karunia bulan Ramadan; dan berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal Ramadhan, mereka berdoa kepada Allah, ”Allahu akbar, allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik lima tuhibbuhu wa tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kepada kami pada bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman; dan berikan kepada kami taufik agar mampu melakukan amalan yang engkau cintai dan ridhai.

2. Bersyukurlah dan puji Allah atas karunia Ramadan yang kembali diberikan kepada kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.

3. Bergembiralah dengan kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah saw. selalu memberikan kabar gembira kepada para shahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.” (HR. Ahmad).Salafush-shalih sangat memperhatikan bulan Ramadan. Mereka sangat gembira dengan kedatangannya. Tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kedatangan bulan Ramadan karena bulan itu bulan penuh kebaikan dan turunnya rahmat.

4. Rancanglah agenda kegiatan untuk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan diri kepada Allah.

5. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadan dengan ketaatan. Barangsiapa jujur kepada Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya dan memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” [Q.S. Muhamad (47): 21]

6. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadan. Wajib bagi setiap mukmin beribadah dengan dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu dan hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar dan diterima oleh Allah. “Tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.

7. Sambut Ramadan dengan tekad meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk. Bertaubatlah secara benar dari segala dosa dan kesalahan. Ramadan adalah bulan taubat. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]

8. Siapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan yang mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan, hukum, dan hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap untuk melaksanakan ketaatan pada bulan Ramadan.

9. Siapkan diri untuk berdakwah di bulan Ramadhan. Bisa jadi diantara kita mendapat peran dalam dakwah misalkan :- Buat catatan kecil untuk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh dan zhuhur.- Membagikan buku saku atau selebaran yang berisi nasihat dan keutamaan puasa.

10. Sambutlah Ramadan dengan membuka lembaran baru yang bersih. Kepada Allah, dengan taubatan nashuha. Kepada Rasulullah saw., dengan melanjutkan risalah dakwahnya dan menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, dan karib kerabat, dengan mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, dengan menjadi orang yang paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Semoga kita bisa menjadikan Ramadhan kedepan sebagai yang terbaik selama hidup. InsyaAllah :)

*sumber : percikaniman.org

Antara Dakwah dan Maisyah

Suatu malam di sebuah surau perkampungan daerah transmigrasi, seorang lelaki setengah baya, sebut saja Amin, duduk dikelilingi belasan orang tua muda. Kulitnya legam terbakar matahari. Namun wajahnya menyemburatkan cahaya ketulusan dan keikhalsan. Matanya memancarkan semangat. Semangat menyelamatkan masyarakat dari keterpurukan dan kehancuran serta menuntun mereka ke jalan keselamatan: Islam.

“Saudara-saudara, sebagaimana Allah menginginkan kita menjadi hamba-Nya saat kita shalat, saat kita berpuasa, Allah juga menginginkan kita menjadi hamba-Nya saat kita bertani, bercocok tanam, berdagang, bergaul dengan tetangga…” Itulah sebagian kalimat yang meluncur dari mulutnya.Begitulah setiap malam ia keliling daerah trans itu dari suarau ke surau lainnya yang berjarak kiloan meter. Bukan itu saja, selain memberi ia juga tetap menerima ilmu sebagai perbekalan dan dorongan ruhiyah. “Kalau memberi terus tanpa menerima bisa tekor saya,” kilahnya setengah becanda. Membina dan dibina. Itulah salah satu prinsip hidupnya. Untuk yang terakhir itu ia harus datang ke ibukota provinsi paling tidak satu kali dalam sebulan. Di tangannya telah berbilang orang mendapat hidayah Allah dan bahkan menjadi kader dakwah. Lalu apa yang dilakukannya di siang hari? Inilah yang menarik. Selain mengurus ladang garapan sebagaimana layaknya para transmigran, ia juga menggulirkan roda bisnis: keluar masuk kampung berjualan bubur!Penghargaan IslamIslam memberikan penghargaan kepada orang yang bekerja untuk mencari ma’isyah (penghidupan). Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang Muslim menaman tanaman melainkan setiap yang dimakan dari tanaman itu merupakan shadaqah dan yang dicuri darinya merupakan shadaqah. Dan tidaklah dikurangi oleh seseorang melainkan itu merupakan shadaqah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu manusia atau binatang atau apa pun memakan darinya melainkan itu menjadi shadaqah baginya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)Rasulullah pun berasabda, “Allah merahmati orang yang berusaha (mencari penghidupan) yang baik, membelanjakan harta dengan hemat dan menyisihkan kelebihan untuk menghadapi masa fakir dan membutuhkan.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).Karenanya Rasulullah saw memberi semangat kepada kaum muslimin untuk tidak mengabaikan peluang sekecil apa pun untuk bekerja mencari rezeki dan berproduktifitas. Rasulullah saw bersabda, “Apabila kiamat datang dan di tangan seseorang di antara kamu ada benih pohon, jika ia bisa menanamkannya sebelum bangkit maka tanamlah (Al-Bukhari)Sepuluh orang sahabat Nabi yang dijamin masuk surga (yakni Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Amru bin ‘Ash, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Rawahah, dan Thalhah bin Ubaidillah) semua memiliki aktifitas mencari ma’isyah. Dan rata-rata aktifitas mereka adalah bisnis.Dalam pandangan Islam, aktifitas dakwah tidaklah lebih mulia dari mencari ma’isyah untuk menghidupi diri dan keluarga. Keduanya adalah perintah Allah yang harus dijalankan. Dakwah adalah upaya untuk menyampaikan hidayah kepada Allah. Mulianya dakwah digambarkan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya, “Jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui (usaha, dakwah) kamu maka hal itu lebih baik bagimu daripada dunia dengan segala isinya.”Nah, manfaat dari adanya ma’isyah yang menjadi pegangan da’i adalah untuk memelihara dan mempertahankan luhurnya nilai aktifitas memberi hidayah kepada Allah itu sehingga ia menjalankan dakwah memang benar-benar sebagai proyek dengan tujuan untuk menyebarkan hidayah kepada manusia.Jika demikian, tampaknya Amin adalah sosok dai ideal dari sisi bahwa dakwah dijalankannya tidak menjadi alasan untuk tidak mencari ma’isyah. Dan sebaliknya, mencari ma’isyah tidaklah menjadi penghalang bagi aktifitas dakwah. Ia menggarapnya secara seimbang. Begitulah Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya. Bahkan para Nabi pun adalah orang-orang yang mempunyai aktifitas kerja untuk mencari ma’isyah. Beliau menegaskan, “Tidaklah seseorang mengkonsumi makanan yang lebih baik dari hasil kerja tangannya. Dan sesungguhny nabiyullah Daud memakan makan dari hasil kerjanya sendiri.” (Al-Bukhari)Sangat beralasan bila Imam Hasan Al-Banna menggambarkan sosok muslim ideal dan dai ideal sebagai orang yang memiliki sepuluh sifat asasi. Kesepuluh sifat asasi tu adalah akidah yang lurus, berbadah secara benar, berakhlak mulia, berbadan kuat, akal terintelektualisasi, mampu berusaha, mampu mengendalikan hawa nafsu, teratur dalam segala urusannya, memanfaatkan waktu dengan baik dan efektif, dan bermanfaat bagi orang lain. Beliau menempatkan kemampuan untuk berusaha mencari ma’isyah sebagai salah satu sifat asasi yang harus ada pada seorang muslim terlebih lagi bagi aktifis dan dai.Lebih rinci lagi Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan, “Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan mencari rezeki. Islam menganggap usaha mencari rezeki sebagai kewajiban yang harus ditunaikan oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan, Islam juga menghargai dan menyanjung orang yang mempunyai pekerjaan dan keahlian; mengharamkan meminta-minta serta menyatakan bahwa sebaik-baik ibadah adalah bekerja. Bekerja (mencari ma’isyah) adalah sunnah para nabi. Islam juga menerangkan bahwa sebaik-baik usaha adalah mencari rezeki dengan tangannya sendiri. Sangat berdosa orang yang menjadi pengangguran dan orang yang hidup dari belas kasihan masyarakat, meskipun dengan alasan agar ibadahnya tidak terganggu. Islam tidak mengenal prinsip hidup menganggur ini.” (Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin Jilid 1). Bahkan, dalam bagian lain Imam Hasan Al-Banna juga menegaskan pentingnya berusaha sekalipun saat ini sudah kaya.Lalu bagaimana dengan pandangan bahwa dakwah harus digarap secara professional? Dan dalam banyak hal profesionalitas menuntut waktu yang penuh, sebagaimana orang yang bekerja di kantor berhak mendapatkan imbalan dari hasil keringatnya. Maka apa yang salah pada seorang dai yang telah mempersembahkan seluruh waktu dan tenaga sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk mencari ma’isyah bila dia menerima persembahan tulus dari orang-orang yang merasa berterima kasih padanya?Pandangan itu tidaklah salah. Rasulullah saw pun bukan saja memperbolehkan, melainkan juga memerintahkan untuk menerima pemberian selama pemberian itu bernilai sebagai pemberian. Artinya bukan tujuan untuk menyuap atau menyumbat suara dakwah sehingga tidak lagi berpihak kepada kebenaran.Komprominya dapat diikat dalam beberapa simpul berikut: Pertama, idealnya seorang dai mempunyai lahan ma’isyah. Tentu bentuknya yang tidak mengganggu aktifitas dakwah bahkan kalau bisa sejalan dengannya dan mendukungnya. Kedua, dai tidak harus menolak pemberian jasa baik orang yang bermaksud memperhatikan kesejahteraan para dai serta merasa berhutang budi padanya.Ketiga, dai harus tetap menjaga keikhlasan dan menegaskan dalam hati bahwa tujuan dakwah adalah untuk menyampaikan hidayah Allah kepada manusia. Jangan sampai terjadi sebuah masjid atau sekelompok masyarakat tidak dapat menyelenggarakan penyampaian hidayah (baca: pengajian) karena tidak kuat untuk mendanai muballigh. Kita diingatkan oleh Allah swt, “Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka terbebani?” (Ath-Thur: 40). Insya Allah tiga hal itu bias menjadi rambu-rambu bagi dai dalam menjalani aktiftas dakwah dan ma’isyah. Allahua’lam.


*sumber : islammedia.web.id

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates